JADWAL EURO 2012

Jadwal Euro 2012 – Euro 2012 atau Piala Eropa 2012 akan segera dimulai pada tanggal 8 Juni 2012 mendatang. Para penggemar bola diseluruh dunia, khususnya di Indonesia tentunya tidak akan melewatkan momen akbar empat tahunan ini. Supaya tidak ketinggalan untuk menyaksikan siarang langsung EURO 2012, maka pada tulisan ini akan disajikan jadwal Euro 2012 kepada teman-teman.

Adapun jadwal Euro 2012 yang akan dipublikasikan disini adalah jadwal pertandingan Euro 2012 yang akan disiarkan langsung oleh RCTI.

Nah… bagi teman-teman yang sudah tidak sabaran ingin segera mendapatkan jadwal Euro 2012, maka berikut adalah jadwalnya dalam bentuk gambar. Untuk memperbesar gambar ini, maka cukup diklik 2 kali, dan kemudian setelah gambarnya besar, tinggal di SAVE As untuk mengoleksinya.

Jadwal UERO 2012

Demikianlah informasi Jadwal Euro 2012 yang bisa disampaikan kepada teman-teman pada tulisan ini. Untuk Jadwal EURO 2012 versi EXCEL dan Jadwal EURO 2012 versi PDF akan menyusul pada postingan yang akan datang.

Juara Dengan Cara Yang Tak Biasa

Juara Dengan Cara Yang Tak Biasa

Penulis: bepe

Setelah 8 tahun Indonesia puasa gelar, akhirnya pada tgl 29 Agustus lalu kita mampu menjadi Juara di Turnamen Pertamina Piala Kemerdekaan. Kemenangan yang seharusnya terasa indah, karena ini juga mampu menjadi kado ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-63. Akan tetapi, sangat disayangkan diluar itu semua pertandingan final sendiri berakhir anti klimaks…

Seperti yang kita ketahui, pertandingan final sendiri tidak mampu dihelat sampai menit terakhir. Kubu Libya yang menjadi lawan Indonesia di partai final menolak melanjutkan pertandingan di babak kedua, dengan alasan terjadi kekerasan terhadap pelaih mereka. Sehingga dengan menolak bertandingnya Libya membuat Indonesia menjadi juara dengan kemenangan WO, hal ini sangat disayangkan mengingat Libya sendiri sebenarnya sudah unggul 1:0 pada babak pertama, dan berpeluang menjadi juara jika mampu mempertahankan kedudukan sampai akhir pertandingan..

Sampai saat ini masih terdapat tanda tanya yang cukup besar di kalangan masyarakat, Apakah benar terjadi pemukulan malam itu..? Apa yang sebenarnya terjadi antara pelatih Libya dengan Pelatih Kiper Idonesia Soedarno di lorong menuju ruang ganti..? Saya sendiri saat kejadian sudah berada di dalam ruang ganti, karena saya masuk lorong bersama rombongan paling depan, sedangkan kejadian terjadi pada rombongan paling belakang, sehingga sejujurnya saya sendiri baru tahu terjadi insiden setelah kami berada di lapangan untuk bersiap memulai babak kedua, akan tetapi yang kami tahu hanya sekedar adu mulut biasa yang tidak terlalu serius..

Pertandingan sendiri berjalan cukup menarik di babak pertama, kedua tim saling menyerang silih berganti. Indonesia sendiri lebih banyak menguasai pertandingan dengan beberapa peluang yang seharusnya berbuah gol, akan tetapi gagal dimaksimalkan menjadi gol. Sedangkan Libya sendiri berhasil mencuri gol melalui sebuah serangan balik yang tertata rapih. Dengan keadaan yang demikian saya sempat berpikir dalam hati, jika pertandingan terus berlanjut saya sangat optimis kami mampu menyamakan kedudukan atau bahkan memenangkan pertandingan malam itu. Setelah dipastikan Libya tidak melanjutkan pertandingan, seorang wartawan tv sempat mewawancarai saya di tengah lapangan, dan saya sempat memberikan pernyataan bahwa “Saya sangat kecewa dengan pertandingan malam ini, menurut saya apapun hasilnya seharusnya pertandingan final harus diselesaikan sampai menit terakhir”. Partai final sendiri seperti menjadi bumbu pelengkap turnamen ini yang terkesan diadakan secara seadanya, setelah sepanjang turnamen jumlah penonton yang hadir sangat sedikit dan tim-tim yang hadir juga terkesan tim-tim kelas dua ditambah partai final sendiri tidak berjalan sampai akhir. Tentu ini semua bisa dijadikan pelajaran serta acuan dalam penyelenggaraan Turnamen Piala kemerdekaan di masa-masa yang akan datang..

Setelah sampai di hotel tempat kami menginap, saya sempat bertemu dengan Pak Darno dan berbincang-bicang dengan beliau. Dan menurut pengakuan Pak Darno beliau hanya berusaha memisah pertengkaran yang terjadi antara Manager Tim Pak Andi D.T dengan Pelatih Kepala Libya, akan tetapi secara tidak sengaja mendorong muka dari sang pelatih yang mengakibatkan kacamatanya terjatuh. Bahkan Pak Darno sempat berujar bahwa pelatih Libya tersebut hanya membesar-besarkan keadaan, jika betul pelatih itu saya pukul mungkin mukanya sudah Bengep (Lebam-lebam) karena mukanya tepat di depan saya. Mengingat bentuk fisik Pak Darno yang besar dengan bentuk kepalan tangan sebesar kepala bayi, ada betulnya juga jika kena bogem mentahnya pasti lebam-lebam. Terlepas dari kontrofersi di atas, semoga kasus ini berhenti sampai disini, semoga kejadian tadi tidak berbuntut hal-hal yang nantinya akan merugikan persepakbolaan negeri kita..

Selamat Kepada Tim Nasional Indonesia Yang Berhasil Menjadi Juara Pertamina Piala Kemerdekaan 2008, Walaupun dengan cara yang “Tidak Biasa”..

“Indonesia Masih Bisa”

“Indonesia Masih Bisa”

Penulis: bepe

“Football is an unpredictable thing.. Some results will make you shock, but that’s the thing that makes it passionate, the mystery in it” Kekalahan Indonesia dari Malaysia di stadion Bukit Jalil dua hari yg lalu, bagai sebuah tamparan keras bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya seluruh punggawa tim nasional yg terkejut, akan tetapi seluruh pendukung merah-putih pun saya yakin juga masih merasa tidak percaya dengan hasil minor tersebut.. Di tengah optimisme akan kebangkitan persepakbolaan kita yg begitu melambung tinggi, kekalahan telak tersebut bak sebuah petir di siang bolong. Sebuah dentuman keras, yg seakan membangunkan kita dari sebuah mimpi indah di siang hari. Sebuah kekalahan memang akan selalu mengintai dalam setiap pertandingan, akan tetapi dengan skor 0:3 melawan Malaysia..?? tentu tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk saat ini.. Ketika itu, suasana di ruang ganti tampak berbeda 180 derajat dari 5 pertandingan yg telah kita lewati sebelumnya. Semua pemain nampak tertunduk lesu memandangi lantai ruang ganti yg basah dan kotor oleh tanah dan rumput lapangan. Keceriaan dan teriakan kemenangan itu tidak terdengar lagi, yg samar-samar terdengar hanyalah suara hembusan napas panjang dan decakan penyesalan yg keluar para pemain yg masih nampak setengah tidak percaya.. Raut muka si Opa (begitulah kami biasa memanggil Alfred Riedl) masih nampak dingin dan tenang seperti biasa, Riedl memang sebuah pribadi yg selalu terlihat tenang, dingin dan sangat fokus dalam apapun keadaannya. Sebuah kalimat keluar dari mulut Riedl saat itu, “Hey,, saya tidak ingin melihat kalian semua berjalan tertunduk saat keluar dari ruangan ini. Malam ini kita memang tidak bermain baik, akan tetapi perjuangan ini masih belum selesai dan kalian semua harus ingat itu..!!”.. Sesaat sebelum memimpin doa penutup, saya meminta waktu kepada Riedl untuk berbicara di depan semua pemain. Dengan setengah berteriak saya berkata “Rekan-rekan kekalahan ini harus berhenti di ruangan ini. Kita tidak memerlukan pembahasan yg lebih panjang mengenai apa yg terjadi malam ini, tidak ada saling menyalahkan tentang apa yg terjadi di lapangan tadi. Kita menang bersama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah bersama-sama”. Saat itu saya memberikan semangat dengan bertepuk tangan, yg seketika disambut dengan tepukan dari semua yg berada dalam ruangan tersebut sambil berteriak, ayooooo…!!!.. Dalam sebuah pertandingan sepakbola. Setiap kemenangan akan membuat kita menjadi lebih percaya diri dan lebih baik sebagai sebuah tim. Akan tetapi setiap kekalahan juga mampu membuat kita menjadi lebih dewasa dan kebih kuat, jika kita mampu menyikapinya dengan cara yg bijaksana. Akan selalu ada pelajaran yg dapat kita petik dalam setiap kekalahan.. Dan lebih daripada itu, bukankan kita masih mempunyai satu pertandingan final lagi di Jakarta. Dimana kita akan bermain di depan kurang lebih 80 ribu pendukung garuda yg sangat fanatik dan militan. Tempat dimana kita (Dalam 5 pertandingan terakhir), selalu mampu menghadirkan kegembiraan bagi pendukung merah-putih di seluruh pelosok negeri. Jadi sangat tidak beralasan dan kurang bertanggung jawab rasanya, jika saat ini kita tertunduk lesu dan patah semangat.. Kita tentu masih ingat saat partai final UCL di tahun 2004, ketika sebuah tim bernama Liverpool mampu menyarangkan 3 gol ke gawang Nelson de Jesus Silva (Dida) hanya dalam waktu 45 menit. Sehingga memaksa AC Milan menjalani perpanjangan waktu 2 x 15 menit, dan akhirnya harus menyerah melalui adu tendangan pinalty… Beberapa waktu yg lalu kita juga disuguhi sebuah kejadian yg terkesan janggal. Ketika tim sekelas Real Madrid dengan sederet bintang-bintangnya serta pelatih sekaliber Jose Mourinho, harus tersungkur oleh kedigdayaan Barcelona dengan skor 5:0 di Camp Nou. Hal tersebut membuktikan jika sepakbola itu penuh dengan misteri, dan akan selalu demikian sampai kapanpun.. Indonesia memang sangat jauh dari gambaran kekuatan Liverpool maupun Barcelona. Akan tetapi saya juga sangat yakin jika Malaysia tidak sekuat dan setangguh AC Milan ataupun Real Madrid. Sehingga kemungkinan bagi kita (Indonesia) untuk dapat memukul Malaysia dengan skor telak di Gelora Bung Karno, juga masih sangat terbuka lebar… Beberapa contoh diatas, adalah gambaran magis dari sebuah olahraga bernama sepakbola. Dimana dalam setiap menit atau bahkan detiknya penuh dengan kejutan dan kejadian-kejadian yg sarat akan emosi. Sepakbola, akan selalu dikelilingi dengan misteri-misteri yg terkadang susah di mengerti dengan hanya sekedar akal sehat. Dan hal-hal tersebutlah yg sebenarnya membuat olahraga ini menjadi sangat menggairahkan.. Maka, sangat beralasan rasanya jika setelah kekalahan 0:3 dari Malaysia tersebut, keesokan harinya saya berteriak dengan lantang melalui corong akun twitter saya sebagai berikut: @bepe20: Bukankah masih ada 90 menit lagi di Jakarta kawan-kawan.. Tetap Semangat…!!! #Indonesiamasihbisa Terus berusaha keras, adalah jalan satu-satunya yg harus kita tempuh pada tgl 29 desember nanti, di Stadion Utama Gelora Bung Karno.“Karena dengan berhenti berusaha, maka kita tidak lebih baik dari seorang pengecut”. Dan apapun hasil dari pertandingan leg kedua nanti, mari kita pastikan jika kita telah mengeluarkan semua kemampuan terbaik kita untuk coba memenangkan pertandingan tersebut. Karena kesempatan ini tidak akan datang dua kali kawan, iya tidak akan datang dua kali.. Selamat berjuang untuk kita semua. Ini adalah final ke 4, setelah pada 3 final sebelumnya kita selalu gagal. Mari kita satukan tekat dan saling bahu-membahu untuk mewujudkan impian itu menjadi sebuah kenyataan. Memang tidak mudah untuk mengejar defisit 3 gol, akan tetapi hal tersebut rasanya juga bukan menjadi sebuah hal yg tidak mungkin kawan, “It’s time to show from what we are made of” Akhir sekali, ijinkan saya untuk mengutip sebuah Quote, dari seorang tokoh besar dunia yg bernama Sir Winston Leonard Spencer Churchil atau lebih kita kenal dengan nama Winston Churchill, yg berisi demikian; “Success consists of going from failure to failure without loss of enthusiasm” Maka, tetaplah semangat kawan-kawan seperjuanganku. Karena kita semua masih percaya, jika; “Indonesia Masih Bisa” Selesai…

“Tetap Semangat Garudaku”

“Tetap Semangat Garudaku”

Penulis: bepe

Di hadapan 100 ribu pendukung merah-putih yg memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, air mata itu tumpah. Di saksikan oleh jutaan pasang mata yg menonton melalui layar kaca, kami kembali tersungkur. Kesedihan itu kembali menyapa, kegetiran itu kembali menghampiri, rasa pahit itu kembali harus di telan, dan kegagalan itu harus kembali kita rasakan bersama.. Beberapa pemain nampak menangis tersedu-sedu, beberapa yg lain terlihat berkaca-kaca, sisanya nampak membuang tatapan nanar, kosong seakan tidak percaya. Sungguh sangat wajar jika mereka terlihat sangat sedih dan terpukul malam itu. Setelah mengawali gelaran piala AFF ini dengan begitu impresif dan elegan, akhirnya kami harus kembali tertunduk lesu.. Mari kita sedikit menengok ke belakang. Dengan hasil 6 kemenangan dan hanya 1 kali menelan kekalahan, ternyata kami belum juga mampu membawa pulang Trophy itu ke pangkuan ibu pertiwi. Bandingkan dengan pencapaian sang juara Malaysia, yg hanya berbekal tiga kemenangan, dua kali hasil seri dan dua kali kekalahan.. Sepakbola memang penuh misteri, terkadang hasil pertandingan tidak selamanya terlihat fair dan dapat diterima oleh akal sehat. Bagaimana tidak aneh, 3 kali kita berhadapan dengan Malaysia, dengan hasil 2 kemenangan dan 1 kekalahan, akan tetapi pada akhirnya merekalah yg keluar sebagai juara.. Aneh dan sedikit sulit di terima akal sehat bukan..?? Itulah sepakbola, Malaysia mengalami kekalahan di saat yg tepat, sedangkan kekalahan kita terjadi disaat-saat yg paling krusial dalam sebuah kejuaraan (Dan dalam skor yg juga cukup mencolok).. Akan tetapi sekali lagi, itulah sepakbola. Sama persis dengan apa yg pernah saya sampaikan dalam artikel (Indonesia Masih Bisa: 2010), “Football is an unpredictable thing. Some results will make you shock, but that’s the thing that makes it passionate, the mystery in it”.. Sehari setelah Indonesia memastikan diri masuk final, kami sempat diundang dalam sebuah acara makan siang oleh Bpk Aburizal Barkie di kediaman beliau. Saat ramah tamah, saya sempat berbicara di depan semua yg hadir dalam acara tersebut. Dan jika saya tidak salah, acara tersebut juga di siarkan secara LIVE oleh salah satu stasiun TV swasta di negeri ini.. Ketika itu saya berbicara demikian, “Ini bukanlah final pertama untuk kita (Indonesia), ini adalah final ke 4 setelah pada 3 final sebelumnya kita selalu gagal. Keberhasilan ini memang patut di rayakan, akan tetapi seharusnya tidak mengurangi fokus dan konsentrasi kita di 2 laga final, yg menurut saya sangat berat”.. Dan ternyata apa yg saya khawatirkan menjadi kenyataan. Kita sempat kehilangan konsentrasi pada pertandingan leg pertama di stadion Bukit Jalil. Hal tersebutlah yg mengakibatkan kita harus menerima 3 gol hanya dalam waktu kurang lebih 15 menit. Iya, bencana 15 menit yg membuat kita harus bekerja dengan sangat keras di Jakarta pada leg ke dua.. Saya kurang sependapat dengan beberapa kalangan yg menyalahkan keberadaan sinar laser di stadion Bukit Jalil, ketika itu. Iya, sinar laser tersebut memang sedikit banyak mengganggu, akan tetapi alangkah kurang bijaksana jika kita menjadikan hal tersebut sebagai alasan utama atas kekalahan kita malam itu… Usai pertandingan, banyak sekali pengamat (Baik yg mengerti maupun yg kurang mengerti tentang sepakbola) menyalahkan para punggawa timnas yg dalam pandangan mereka bermain sangat buruk. Beberapa pemain mendapatkan sorotan yg sangat tajam dan bahkan beberapa pemain tersebut di nilai tidak pantas berseragam merah-putih.. Bagi saya pribadi, hal tersebut sungguh sangat menggelikan. Saya memang sependapat jika beberapa pemain sempat melakukan kesalahan. Akan tetapi bukankan secara keseluruhan dalam 5 pertandingan sebelumnya, mereka telah melakukan kerja yg luar biasa bagi tim ini. Apakah anda sekalian lupa akan fakta tersebut..?? “Setiap orang yg berusaha dan bekerja dengan keras, suatu saat pasti akan membuat kesalahan. Sedangkan mereka yg hanya duduk berdiam diri serta berpangku tangan, tidak akan pernah berbuat salah” Sebagai pemimpin dari tim ini, saya tidak akan pernah membiarkan salah satu pemain tertinggal di belakang. Saya akan selalu pastikan, jika semua pemain tetap bergandengan tangan dan berjalan di garis horizontal yg sama. Seperti yg pernah saya sampaikan dalam artikel (Indonesia Masih Bisa : 2010) “Sebagai sebuah tim, kita menang bersama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah kalah bersama-sama”.. Dan pada akhirnya, sayalah yg akan bertanggung jawab mengenai apapun yg terjadi di dalam tim ini (Tentu di luar konteks Manager dan Pelatih kepala). Saya adalah pemain yg berbicara atas nama tim ketika konferensi pers sesaat setelah laga final digelar. Iya, saya sengaja datang dalam konferensi pers tersebut, karena itu merupakan tanggung jawab saya, sekali lagi itu merupakan tanggung jawab saya.. Saat itu, di depan seluruh wartawan baik dalam maupun luar negeri yg hadir, saya berbicara demikian: “Awal sekali tahniah (Selamat) untuk Malaysia, yg telah berhasil memenangi gelar AFF Cup tahun ini.. Dan mengenai tim Indonesia, menurut saya tidak ada yg salah dengan tim ini, kami berhasil memenangkan pertandingan malam ini, hanya saja kami tidak mampu untuk menjadi juara.. Terima kasih atas dukungan dari semua pihak yg terkait dan selamat malam” Diantara seluruh punggawa merah-putih, mungkin saya adalah pemain yg paling terpukul dengan kegagalan tersebut. Ini merupakan kegagalan saya untuk yg kesekian kalinya, pertandingan melawan Malaysia di final itu sendiri, adalah penampilan saya ke 86 untuk merah-putih dalam kurun waktu 11 tahun, 5 bulan, 3 minggu dan 5 hari (Tanpa ada satupun gelar tim penting yg mampu saya raih). Dan mungkin, pertandingan tersebut juga akan menjadi penampilan saya yg terakhir untuk Indonesia (Semoga saja tidak).. Sejujurnya malam itu saya ingin menangis, akan tetapi hati kecil saya mengatakan “JANGAN”. Sebagai pemain senior, tentu saya bertanggung jawab untuk membesarkan hati seluruh punggawa tim ini. Saya harus tetap memelihara keyakinan seluruh pemain, jika masih ada hari esok. Saya harus tetap memberi semangat kepada mereka, jika kegagalan ini bukanlah akhir dari segalanya. Saat itu, saya berusaha sebisa mungkin untuk terlihat tegar, walaupun sejujurnya hati saya juga retak.. Saya menepuk pundak Hamka, Maman, Markus, Nasuha, Zulkifli, Christian, Bustomi dan beberapa pemain yg lain sambil berkata, “Hey,, kita sudah melakukan yg terbaik kawan, tidak ada yg perlu di sesalkan’. Saya juga sempat memeluk Irfan Bachdim yg tengah menangis dan berkata, “It’s ok Irfan, maybe next time bro, maybe next time”. Saya juga menghampiri Arif Suyono yg nampak menangis tersedu-sedu di ujung bangku cadangan sembari berbisik, “Isin rek ketok no TV nangismu hehehe” (Malu ah loe nangis keliatan di TV itu hehehe).. Tidak lupa, saya juga membesarkan hati Firman Utina, yg tengah merasa sangat bersalah dengan kegagalannya dalam menuntaskan tendangan 12 pas malam itu. Ketika itu saya berkata “Terlepas dari kegagalan pinalti tadi, loe udah nglakuin tugas yg luar biasa buat tim ini Man. Siapapun bisa gagal pinalti sob, gue juga sering. Loe pantes jadi pemain terbaik AFF kali ini Man, Selamat..!!”.. Saya berkewajiban membesarkan hati seluruh pemain yg sebagian besar masih berusia muda, karena mereka masih mempunyai masa depan yg sangat panjang. Di depan mereka, sudah menunggu sebuah tanggung jawab yg juga tidak kalah besar di event-event berikutnya di antarnya Sea Games, Pra Olimpiade maupun Penyisihan Piala Dunia yg akan di helat dalam waktu dekat.. Kekalahan ini memang sangat menyakitkan, akan tetapi tidak seharusnya hal tersebut diratapi dengan terlalu berlebihan. Kegagalan ini memang menyisakan kepedihan, akan tetapi hal itu jangan sampai memadamkan semangat dan mimpi kita bersama, untuk memajukan persepakbolaan negeri ini.. Karena, keyakinan itu hendaknya harus tetap ada di hati kita semua. Semangat itu harus tetap menggelora di jiwa kita bersama. Sehingga sudah seharusnya, jika kita tetap berteriak dengan lantang: “Tetap Semangat Garudaku…!!!” Selesai…

“Jangan Pernah Berhenti Bermimpi”

“Jangan Pernah Berhenti Bermimpi”

Penulis: bepe

Beberapa waktu yg lalu, ada salah satu follower twitter saya yg menyampaikan sebuah link berita yg cukup menarik kepada saya. Sebuah artikel yg berisi tentang komentar seseorang terhadap diri saya secara pribadi. Dan harus saya akui, jika saya cukup tertarik dengan link berita itu. Karena orang yg berkomentar dalam artikel tersebut adalah seseorang yg sangat berpengaruh dalam karir saya. Iya, seorang yg sangat saya hormati, baik secara pribadi maupun sebagai seorang atlit profesional (Pesepakbola)…

Orang tersebut adalah Kurniawan Dwi Julianto, seorang pribadi yg secara tidak langsung telah membuat hati saya merasa yakin untuk memilih sepakbola sebagai karir dan jalan hidup. Dalam artikel ini, saya tidak tertarik untuk membahas tentang pendapat Kurniawan mengenai diri saya seperti yg di sampaikan dalam artikel tersebut. Melainkan saya lebih tertarik untuk mengurai saat pertama kali saya bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan orang yg sangat saya idolakan tersebut…

Suatu ketika dimana rasa takut, malu, grogi, semangat, penasaran dan rasa bangga hadir secara bersamaan dalam perasaan saya. Sebuah keadaan yg mungkin juga akan di rasakan oleh kebanyakan orang, saat bertemu dengan idola mereka untuk yg pertama kalinya…

Hahahaha,, sebuah cerita yg mungkin akan sedikit memalukan atau mungkin dapat juga dikategorikan norak, akan tetapi tidak dapat saya pungkiri jika saat itu adalah saat dimana saya menjadi yakin dan percaya dengan sebuah kalimat yg berkata:

“Jangan pernah berhenti bermimpi, karena mungkin suatu saat mimpi kalian akan menjadi kenyataan”…

Maka dari itu jika anda sekalian tidak keberatan, pada artikel ini saya ingin mengajak anda sekalian untuk sedikit terbang kembali ke masa lalu, kembali ke masa 12 th kebelakang tepatnya di th 1999. Yaitu saat pertama kali saya bertemu dengan seorang Kurniawan Dwi Julianto secara langsung. Di sebuah hotel, dalam sebuah pemusatan latihan bersama tim nasional Indonesia, di ibukota negara Indonesia – Jakarta…

Dan inilah cerita selengkapnya:

Hotel Atlet Century Jakarta, pada pertengahan bulan juni 1999..

Ketika saya menginjakkan kaki di lobby hotel ini, jam Guess (Palsu) di tangan kanan saya menunjukkan pukul 05:30 WIB di pagi hari. Suasana hotel ini sendiri masih cukup lengang pagi ini, masih belum nampak kegiatan yg cukup berarti di lobby hotel ini. Tanpa basa-basi sayapun segera melangkahkan kaki menuju resepsion untuk melaporkan kedatangan saya serta mengambil kunci kamar saya. Saya ingat betul jika ketika itu, saya mendapatkan kamar di lantai 4 bersama 3 pemain yg lain, pemain -pemain tersebut adalah Agung Setyabudhi, I Komang Putra dan Ali Sunan (Ketiganya adalah pemain dari PSIS Semarang ketika itu)…

Dari keempat penghuni kamar tersebut, saya adalah pemain pertama yg sampai ke pemusatan latihan. Ke tiga pemain yg lain baru datang siang harinya, karena latihan pertama tim nasional baru akan di gelar sore harinya, di Stadion Utama Gelora Bung Karno…

Setelah meletakkan barang dan merebahkan diri sejenak, saya memutuskan untuk pergi ke belakang hotel ini untuk sarapan (Ketupat sayur kaki lima). Saat sarapan itulah saya berjumpa dengan beberapa staff perlengkapan tim yg juga tengah sarapan, dari staff tersebut saya mengetahui jika beberapa pemain ternyata juga sudah bergabung sejak semalam. Diantara pemain tersebut adalah Kurniawan DJ, Rochy Putiray, Bima Sakti dan Widodo C Putra…

Karena Kurniawan adalah senior saya yg sama-sama berasal dari Diklat Salatiga, maka secara etika sudah seharusnya jika saya menghadap atau lebih halusnya menyampaikan kedatangan saya kepada senior saya. Oleh karena itu setelah selesai sarapan, sayapun berinisiatif untuk menuju kamar Senior saya tersebut, yg kebetulan juga berada di lantai 4 tidak jauh dari kamar saya…

Sebelum menuju kamar Kurniawan, saya sempat kembali kekamar saya terlebih dahulu untuk mandi. Karena ini adalah pertama kalinya saya akan bertemu dengan Kurniawan secara langsung, maka secara jujur saya katakan jika ketika itu saya dalam keadaan yg sangat gugup. Sebentar lagi saya akan bertemu dengan seseorang yg selama ini sangat saya kagumi dan hanya dapat saya lihat dari layar televisi. Rasa bangga, takut, deg-deg’an, grogi serta malu bercampur aduk menjadi satu. Bahkan, walaupun ketika itu saya baru saja selesai mandi, akan tetapi baju saya mulai basah oleh keringat yg keluar secara perlahan melalui pori-pori kulit di sekujur tubuh saya…

Jarak kamar saya dengan kamar Kurniawan tidaklah begitu jauh, kami hanya terpisah kurang lebih 4 kamar saja. Sejujurnya, hati saya sempat ragu saat melangkah menuju kamar idola saya tersebut, akan tetapi karena rasa penasaran dan bangga yg begitu tinggi, dan juga di topang oleh sebuah etika wajib lapor kepada senior, maka sayapun membuang jauh-jauh rasa ragu tersebut itu dan mempertegas langkah saya menuju kamar senior saya itu…

Sesampainya di kamar Kurniawan, saya sempat menempelkan telinga saya ke daun pintu kamar sebelum mengetuk pintu kamar berwarna coklat tua tersebut. Hal itu saya lakukan untuk memastikan jika memang sudah terjadi aktivitas di kamar tersebut. Tentu saja saya tidak ingin kedatangan saya nantinya akan mengganggu aktivitas si empunya kamar. Karena jika hal tersebut terjadi, tentu akan meninggalkan kesan negatif di awal pertemuan saya dengan idola saya…

Saat saya sudah dapat memastika jika si penghuni kamar sudah bangun, maka sayapun memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar tersebut. Dari balik pintu terdengar suara langkah kaki seseorang yg tengah berjalan mendekat, seketika detak jantung sayapun berdetak lebih cepat dari biasanya. Dan ketika pintu kamar hotel itu terbuka, nampaklah seseorang dengan perawakan sedikit lebih tinggi dari saya akan tetapi juga sedikit lebih kurus dengan model rambut yg cepak cederung botak…

Orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Kurniawan Dwi Julianto, orang yg sangat saya kagumi dan selama ini hanya dapat saya lihat melalui layar kaca televisi. Melihat kedatangan saya, Kurniawan seketika berkata “Eh nembe teko yo, piye kabare..?? ayo kene mlebu” (Eh baru sampai ya, apa kabar..?? Mari sini masuk”. Saat itu saya sempat terpaku sejenak sebelum akhirnya menjawab “Alhamdulillah apik mas, iyo iki nembe teko”, (Alhamdulillah baik mas, iya ini baru saja sampai”. Saya butuh beberapa saat untuk mengendalikan diri, dan ketika saya sudah tenang sayapun berjalan memasuki kamar tersebut…

Saat saya memasuki kamar tersebut, terlihat Rochy Putiray tengah merebahkan diri di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Sayapun segera menghampiri nya untuk bersalaman sambil memperkenalkan diri saya. Di kamar ini sendiri tidak nampak sebuah televisi, iya saat itu kami memang mendapatkan jatah kamar khusus untuk atlit, yg tidak terdapat televisi di dalam kamar. Sehingga jika kami ingin melihat televisi, maka kami harus pergi ke aula untuk berbagi 1 televisi dengan atlit-atlit dari cabang olahraga yg lain..

Saat itu terjadilah percakapan ringan antara saya dan idola saya tersebut. Sebuah percakapan yg dalam versi aslinya terjadi dengan menggunakan bahasa jawa. Akan tetapi karena saat menulis artikel ini saya tengah berbaik hati, maka akan saya terjemahkan percakapan tersebut ke dalam bahasa Indonesia, agar dapat anda sakalian pahami maksud dan artinya hehehe…

Percakapan tersebut kurang lebihnya berisi seperti di bawah ini:

Kurniawan: Ayo duduk sini, kapan sampai..??

Saya: Baru saja mas jam 5:30 an, kemarin berangkat dari Salatiga jam 5 sore (Perjalanan menggunakan bus malam)..

Kurniawan: Ooooo, sekamar sama siapa..??

Saya: Sekamar saya Ali Sunan, Agung Setyabudhi dan I Komang Putra mas. Tapi mereka pada belum datang, mungkin nanti siangan baru masuk. Oh iya mas dapat salam dari Mas Hariyadi (Sekarang pelatih Persiba Balikpapan) dan Om John Ozok (Keduanya adalah pelatih Diklat Salatiga dan juga pernah melatih Kurniawan saat masih di sana)..

Kurniawan: Oh iya-iya, apa kabar mereka..?? Masih galak ngga mereka..?? hahaha..

Saya: Ya lumayan lah mas hehehe.. Ngomong-ngomong suasana latihan di timnas senior itu gimana ya mas..?? saya kok masih grogi dan sedikit takut dan sungan ya mas..

Kurniawan: Kenapa takut..?? Sama sajalah seperti latihan tim-tim biasa, apalagi kamu kan sudah pernah bekerja sama dengan Bernard Schoem di tim U-19 dan U-23. Tapi kalo main di timnas senior ada peraturan-peraturan yg harus di taati. Diantaranya rambut harus rapih, jangan seperti sekarang awut-awutan gitu, karena kita kan membela nama negara…

Ketika itu rambut saya memang cukup gondrong dan awut-awutan. Tipe asli rambut saya sendiri memang keriting, sehingga jika sudah mulai memanjang maka rambut saya akan mengembang keatas. Eehhmm,, mungkin mirip seperti rambut Edi Brokoli namun dalam versi yg sedikit lebih pendek tentunya..

Saya: Oh gitu ya mas, kalo begitu nanti siang saya akan potong rambut..

Kurniawan: Satu lagi, di tim pra olimpiade kan kamu pakai nomer 10, jadi kalo misalnya kamu mau pakai nomer 10 di timnas senior pakai saja, nanti aku akan cari nomer lain…

Saat itu tiba-tiba Rochy Putiray menyaut, “Udah pakai aja mbang, ngga usah malu dan ragu Kurniawan udah abis hahaha”, celetuknya sabil tertawa kecil (Tentu sembari bercanda). Mendengar perkataan tersebut, sayapun segera menjawab dengan sedikit tersipu..

Saya: Oh ngga mas terima kasih, itu kan sudah menjadi ciri sampeyan, saya sih pakai nomer berapa saja ngga masalah. Lagipula saya kan baru ikut seleksi, lolos juga belom tentu hehehe..

Kurniawan: Pokoknya jangan sungkan-sungkan di timnas senior ya, anggap saja semua pemain sama. Kamu di panggil pasti karena pelatih berpikir kamu juga mempunyai kelebihan, jadi jangan merasa rendah diri disini..

Saya: Iya mas terima kasih. Yasudah mas saya pamit dulu mau istirahat..

Dan sayapun kembali bersalaman dengan Kurniawan dan jua Rochy Putiray sebelum akhirnya saya meninggalkan kamar tersebut…

Siang itu juga saya memutuskan untuk memotong rambut saya, tempat potong rambut paling dekat dari Hotel Century adalah Plaza Senayan. Ketika itu saya memangkas rambut saya di sebuah salon bernama Johny Andrean. Sejujurnya sangat berat bagi saya untuk memotong rambut saya ketika itu. Karena sebenarnya, saat itu saya sedang dalam tahap untuk memanjangkan rambut saya, agar dapat saya ikat dengan model cornrows (Terinspirasi dengan gaya rambut Hendrik Larson)…

Akan tetapi mengingat ini adalah salah satu aturan di tim nasional senior (Menurut Kurniawan Dwi Julianto), maka rambut yg sebenarnya sudah saya biarkan panjang selama kurang lebih 3 bulan itu, akhirnya dengan sedikit berat hati harus saya relakan untuk dipangkas. Tidak sampai habis memang, akan tetapi setidaknya menjadi jauh lebih pendek dan rapi…

Sore itu adalah latihan pertama tim nasional yg di persiapkan untuk Sea Games 1999 di Brunei Darussalam. Sebuah sore yg akan selalu saya kenang dalam hidup saya. Iya, sebuah sore dimana menjadi saat pertama kalinya saya berlatih bersama squad utama tim nasional Indonesia (Senior). Saat dimana saya berkesempatan berlatih dalam satu lapangan, serta di bawah satu pelatih kepala bersama pemain-pemain kelas satu di negeri ini…

Ketika itu di Gelora Bung Karno, saya berlatih bersama pemain-pemain seperti Hendro Kartiko, Anang Ma’ruf, Aji Santoso, Alm Eri Irianto, Kurnia Sandi, Widodo C. Putra, Bima Sakti dan tentu saja Kurniawan Dwi Julianto. Mereka adalah pemain-pemain yg selama ini hanya dapat saya liat dan saksikan melalui layar kaca televisi. Bayangkan, saya baru masuk Diklat Sepakbola Salatiga pada th 1996, dan 3 th kemudian saya sudah mampu menjadi bagian dalam tim nasional Indonesia senior. Tentu ini adalah sebuah impian yg menjadi kenyataan…

Pada perkembangannya, saya baru tahu jika ternyata Kurniawan berbohong kapada saya mengenai peraturan di tim nasional senior dalam hal rambut. Karena memang tidak ada peraturan yg mengatakan, jika seorang pemain nasional harus berambut pendek dan rapi. Awalnya saya cukup keki dengan kenyataan tersebut, akan tetapi ya sudahlah mungkin maksud Kurniawan sendiri sebenarnya baik, agar penampilan saya lebih rapi dan tidak kampungan hehehe. Lagipula di jahilin oleh seorang idola tentu malah akan menjadi sebuah cerita yg pantas untuk di kenang..

Satu hal yg sangat saya sayangkan ketika itu adalah, pada akhirnya Kurniawan harus terlempar dari tim dan tidak berangkat ke Sea Games di Brunei. Saat itu hanya tersisa Widodo C Putra, Rochy Putiray dan saya di barisan depan tim nasional Indonesia. Ketiadaan Kurniawan sendiri, seharusnya membuat saya mendapat kesempatan untuk menggunakan nomer punggung 10 di tim nasional, sama seperti saat saya bermain untuk tim nasional pra olimpiade. Akan tetapi setelah berpikir dengan matang, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan nomer punggung yg lain, sehingga saat itu nomer punggung 10 tidak di pakai oleh siapapun..

Saya memilih nomer lain dengan beberapa alasan. Pertama, karena saya sangat menghormati orang yg selama ini menjadi pemilik nomer tersebut (Kurniawan Dwi Julianto). Kedua, karena saya ingin memiliki sebuah nomer yg identik dengan nama saya, seperti halnya nomer 10 yg identik dengan Kurniawan, atau identikya nomer 7 dengan nama Widodo C Putra. Maka dari itu akhirnya sayapun memilih nomer punggung 20 untuk saya kenakan. Kebetulan nomer tersebut tengah tak berpemilik, karena di tinggalkan Hendro Kartiko yg berganti ke Nomer 1 setelah Kurnia Sandi (Pemilik nomer 1) harus terseingkir karena mengalami patah kaki dalam sebuah sesi latihan…

Saya sendiri memilih nomer 20 bukan tanpa alasan dan tujuan. Alasan saya ketika itu adalah, saya ingin menggunakan sebuah nomer yg unik atau fidak lazim di gunakan oleh seorang striker. Dan angka 20 cukup mewakili akan hal itu, karena nomer tersebut memang lazimnya di gunakan oleh seorang penjaga gawang (Pada masa itu). Kemudian alasan berikutnya serta mungkin yg paling penting adalah, sebuah filosofi karangan saya di balik nomer 20 itu sendiri..

Yaitu, jika dalam sebuah mata pelajaran maka nilai 10 akan berarti istimewa. Dan jika angka 10 berarti istimewa, maka dari itu angka 20 juga dapat diartikan sebagai 2 x 10 atau 2 x istimewa hehehe. Jadi diharapkan dengan menggunakan nomer tersebut, di masa yg akan datang prestasi saya dapat melebihi si pemilik nomer 10 ( Kurniawan Dwi Julianto) atau setidaknya menyamai prestasi idola saya tersebut…

Agak terkesan arogan memang, akan tetapi sejujurnya filosofi tersebut saya buat untuk menantang, memotivasi serta sekaligus menjadi target saya dalam menjalani karir di dunia sepakbola. Dengan begitu, saya selalu mempunyai motivasi tinggi dalam menjalani karir saya, dalam apapun kendalanya. Dan tak terasa ternyata 12 th sudah saya menggunakan nomer punggung 20 dalam setiap pertandingan saya. Saya hanya sempat menggunakan nomer lain saat bermain di EHC Norad, ketika itu saya menggunakan nomer punggung 9..

Nomer punggung 20 selalu setia menemani saya dalam mengejar mimpi-mimpi saya sampai dengan saat ini. Saya mengalami banyak sekali kejadian-kejadian dalam karir sepakbola saya, baik yg menyenangkan maupun menyedihkan bersama dengan nomer punggung ini. Menjadi juara, pencetak gol terbanyak, pemain terbaik, patah kaki, depresi, memecahkan rekor gol tim nasional dan caps tim nasional, menaklukkan Malaysia bersama Selangor FC dan lain-lain adalah hasil kolaborasi saya bersama nomer punggung tersebut…

Seperti yg anda sekalian ketahui, saya adalah pribadi yg tidak pernah berhenti bermimpi. Sejauh ini saya sudah mampu mewujudkan beberapa diantara mimpi-mimpi tersebut. Akan tetapi memang masih banyak juga diantaranya yg belum dapat terwujud. Salah satu diantaranya mungkin mimpi untuk memberikan gelar untuk tim nasional Indonesia. Jika saya masih dipercaya dan diberi kehormatan oleh pelatih tim nasional untuk mengenakan seragam tim nasional Indonesia, maka sudah barang tentu saya akan terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi tersebut, dan saya sendiri berharap masih memiliki kesempatan tersebut…

Sebagai manusia, kita tidak akan pernah tahu apa yg akan terjadi di masa yg akan datang. Sejatinya hal terpenting dalam sebuah kehidupan adalah, bagaimana kita berusaha semaksimal mungkin dalam setiap kesempatan, menjalani dengan sepenuh hati dan menerima apapun yg terjadi dengan ihklas dan lapang dada…

“Kita boleh saja tidak memiliki kompas ataupun peta. Akan tetapi, saya yakin jika kita semua diberi anugerah oleh sang pencipta sebuah hati, yg dapat digunakan untuk menentukan mana kira-kira arah yg tepat dan pantas untuk kita tuju”

Oleh karena itu, jangan pernah takut dan berhenti bermimpi, karena hal tersebut tidak akan pernah membuat kita tersesat…

Selesai…

sejarah sepak bola

Asal muasal sejarah munculnya olahraga sepak bola masih mengundang perdebatan. Beberapa dokumen menjelaskan bahwa sepak bola lahir sejak masa Romawi, sebagian lagi menjelaskan sepak bola berasal dari tiongkok. FIFA sebagai badan sepak bola dunia secara resmi menyatakan bahwa sepak bola lahir dari daratan Cina yaitu berawal dari permainan masyarakat Cina abad ke-2 sampai dengan ke-3 SM. Olah raga ini saat itu dikenal dengan sebutan “tsu chu “.

Dalam salah satu dokumen militer menyebutkan, pada tahun 206 SM, pada masa pemerintahan Dinasti Tsin dan Han, masyarakat Cina telah memainkan bola yang disebut tsu chu. Tsu sendiri artinya “menerjang bola dengan kaki”. sedangkan chu, berarti “bola dari kulit dan ada isinya”. Permainan bola saat itu menggunakan bola yang terbuat dari kulit binatang, dengan aturan menendang dan menggiring dan memasukkanya ke sebuah jaring yang dibentangkan diantara dua tiang.

Versi sejarah kuno tentang sepak bola yang lain datangnya dari negeri Jepang, sejak abad ke-8, masyarakat disana telah mengenal permainan bola. Masyarakat disana menyebutnya dengan: Kemari. Sedangkan bola yang dipergunakan adalah kulit kijang namun ditengahnya sudah lubang dan berisi udara.

Menurut Bill Muray, salah seorang sejarahwan sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, permainan sepak bola sudah dikenal sejak awal Masehi. Pada saat itu, masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola yang terbuat dari buntalan kain linen.

Sisi sejarah yang lain adalah di Yunani Purba juga mengenal sebuah permainan yang disebut episcuro, tidak lain adalah permainan menggunakan bola. Bukti sejarah ini tergambar pada relief-relief museum yang melukiskan anak muda memegang bola dan memainkannya dengan pahanya.

Sejarah sepak bola modern dan telah mendapat pengakuan dari berbagai pihak, asal muasalnya dari Inggris, yang dimainkan pada pertengahan abad ke-19 pada sekolah-sekolah. Tahun 1857 beridiri klub sepak bola pertama di dunia, yaitu: Sheffield Football Club. Klub ini adalah asosiasi sekolah yang menekuni permainan sepak bola.

Pada tahun 1863, berdiri asosiasi sepak bola Inggris, yang bernama Football Association (FA). Badan ini yang mengeluarkan peraturan permainan sepak bola, sehingga sepak bola menjadi lebih teratur, terorganisir, dan enak untuk dinikmati penonton.

Selanjutnya tahun 1886 terbentuk lagi badan yang mengeluarkan peraturan sepak bola modern se dunia, yaitu: International Football Association Board (IFAB). IFAB dibentuk oleh FA Inggris dengan Scottish Football Association, Football Association of Wales, dan Irish Football Association di Manchester, Inggris.

Sejarah sepak bola semakin teruji hingga saat ini IFAB merupakan badan yang mengeluarkan berbagai peraturan pada permainan sepak bola, baik tentang teknik permainan, syarat dan tugas wasit, bahkan sampai transfer perpindahan pemain.